November 18, 2017

25 Taman Budaya Satukan Mantra di Jambi

Tarian tradisional “Lukah Gilo” yang penuh magis ditampilkan wakil dari Jambi.
Tarian tradisional “Lukah Gilo” yang penuh magis ditampilkan wakil dari Jambi.

Jambi (Paradiso) – 25 Taman Budaya seluruh Indonesia berkumpul satukan mantra di Kota Jambi. Tapi, pertemuan ini bukan untuk mencari tahu mantra mana yang paling hebat. Seluruh kekuatan mantra ini saling mewarnai di perhelatan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia Tahun 2013 di Kota Jambi pada 4-8 Juni 2013.

Acara ini mengangkat tema “Kekuatan Mantra dalam Perspektif Kebudayaan Indonesia”. Temu Karya Taman Budaya berlangsung di Taman Budaya Jambi ini, selain pentas budaya, pameran instalasi, dan melukis massal, panitia juga menyelenggarakan seminar, workshop dan dialog seni rupa dan seni pertunjukan.

Kekuatan mantra yang selama ini digunakan dalam ritual adat dan kehidupan sehari-hari diangkat dalam seni pertunjukan budaya tradisi dan modern. Seniman yang berkumpul mengolaborasikan mantra-mantra ke dalam seni.

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Prof. Ahman Sya.
Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Prof. Ahman Sya.

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Kemenparekraf, Prof. Ahman Sya mengatakan Temu Karya dan Forum Kepala Taman Budaya se-Indonesia merupakan salah satu kegiatan pendukungan, kegiatan ini dilaksanakan secara sinergi dengan intansi-intansi terkait, seniman, komunitas anak muda, lembaga dalam dan luar negeri. Kedepan, kami mengharapkan masyarakat dalam dan luar negeri tertarik mengunjungi pertunjukan dan pameran keragaman dan keunikan seni dan budaya Indonesia yang digelar berkala di Taman Budaya seluruh Indonesia.

“Program pengembangan ruang-ruang kreatif, pada tahun 2013 diwujudkan melalui Aktivasi Taman Budaya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan peran Taman Budaya sebagai sarana berkomunikasi dan berkolaborasi insan kreatif, seniman, budayawan, serta masyarakat, dan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas karya seni dan budaya yang memiliki daya saing dan nilai tambah secara budaya, sosial, dan ekonomi,” ujarnya dalam sambutan pembukaan Temu Karya Taman Budaya 2013 di Kota Jambi, Selasa (4/6/2013).

Karya seni instalasi wakil dari Bali.
Karya seni instalasi wakil dari Bali.

Ahman mengharapkan, Taman Budaya menjadi center of excellence of Arts and Culture, dan destinasi pawisata budaya

Tidak kurang dari 800 seniman yang tergabung dalam 28 kontingen, terdiri atas 25 taman budaya di wilayah Sumatera, Jawa, Papua, dan Sulawesi, serta 4 kelompok seni tradisi yang mewakili dinas kebudayaan di daerah lainnya yang belum memiliki taman budaya hadir dalam acara ini.

Diharapkan dengan penyelenggaraan kegiatan ini, terbuka ruang ekspresi berkesenian dan terjalin kerjasama antar Taman Budaya di seluruh Indonesia sehingga kekayaan budaya di tiap daerah yang menjadi ruh kebudayaan nasional dapat dikembangkan juga dilestarikan. Sehingga beragam kebudayaan di Bumi Pertiwi dapat dijaga dari duplikasi dan klaim pihak luar.

Mengelola Taman Budaya

Kesempatan terpisah, Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf, Juju Masunah mengatakan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif disalurkan melalui dana dekonsentrasi yang dikelola langsung pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Juga digelar workshop cara mengelola taman budaya dan menejemen seni pertunjukan dengan pembicara pakar dan praktisi seni pertunjukan dari Jakarta dan luar negeri yang diikuti seluruh kepala taman budaya.
Juga digelar workshop cara mengelola taman budaya dan menejemen seni pertunjukan dengan pembicara pakar dan praktisi seni pertunjukan dari Jakarta dan luar negeri yang diikuti seluruh kepala taman budaya.

Juju Masunah juga menjelaskan pada tahun 2013 ini, dukungan disampaikan kepada 13 provinsi yaitu: Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh, Jambi, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.

“Kegiatannya sudah mulai dilaksanakan pada Mei sampai November, yang meliputi capacity building dan asset building. Untuk kegiatan ini, kami akan bekerjasama dengan Australia (Aus Aid) melalui program Australian Business Volunteers,” ujarnya.

Juju menambahkan, capacity building bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan skill pengelola Taman Budaya dalam bidang managemen seni pertunjukan, kuratorship, tata panggung, dokumentasi, promosi dan publikasi. Kegiatannya meliputi workshop, pelatihan tentang sistem dokumentasi dan pengarsipan, serta workshop/lokakarya terkait dengan pengelolaan produksi pertunjukan/pameran dan festival. Kegiatan lainnya adalah mengembangkan jejaring dengan stakeholder yang tujuannnya adalah untuk meningkatkan kerjasama antar individu, komunitas, dan lembaga di dalam dan di luar negeri.

“Asset building adalah pengelolaan asset seni pertunjukan (tari, musik, teater, pedalangan), seni rupa dan kriya, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kreasi karya seni agar menghasilkan produk unggulan berdaya saing dan diapresiasi oleh masyarakat luas. Kegiatannya berupa perbengkelan kesenian: Tari, Musik, Teater, dan Kerajinan alat musik atau property panggung, pergelaran dan pameran, dan pekan seni dan budaya atau festival,” jelasnya.

Melalui program ini, Taman Budaya akan melaksanakan minimal empat kali pertunjukan dari yang tradisi, populer, sampai kontemporer. (*/bowo)

Facebook Comments