November 18, 2018

Batik Air, Nam Air, Kartika Airlines dan Jatayu Siap Terbang

Jatayu Airlines

Jakarta (Paradiso) – Dalam waktu dekat ini Kementerian Perhubungan mencatat akan ada empat perusahaan penerbangan niaga berjadwal yang akan beroperasi pada tahun depan (2013) yakni Batik Air, Nam Air, Kartika Airlines, dan Jatayu.

Djoko Murjatmodjo, Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengatakan keempat calon maskapai ini tengah melakukan proses pengajuan izin usaha maupun izin terbang.

“Dari empat calon maskapai itu, yang sudah memegang surat izin usaha penerbangan (SIUP) adalah Batik Air, anak usaha Lion Air. Batik Air kini proses mengurus Air Operator Certificate (AOC), atau sertifikat izin operasi, sedangkan ketiga maskapai lainnya, yakni Nam Air, anak usaha Sriwijaya Air, Kartika Airlines, dan Jatayu masih proses SIUP,” ujarnya.

Dikatakannya, Kartika dan Jatayu sebenarnya maskapai lama, tetapi karena sudah lama tidak terbang, izinnya hangus, dan sekarang mereka harus mengurus izin baru karena berniat terbang lagi.

Dari keempat calon maskapai ini, dua diantaranya untuk penerbangan kelas premium, yakni Batik Air dan Nam Air. Lion Air, sebagai induk perusahaan Batik Air, akan mengembangkan lini bisnisnya ke penerbangan kelas premium, dari yang saat ini penerbangan bertarif rendah atau low cost carrier (LCC).

“Begitu juga dengan Sriwijaya Air, Djoko melanjutkan, dengan Nam Air, Sriwijaya Air melebarkan lini bisnisnya ke pasar penerbangan kelas premium, sedangkan Sriwijaya Air sendiri masih melayani kelas medium,” katanya.

Sementara itu, Herry Bakti S. Gumay, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub mengatakan munculnya maskapai-maskapai baru ini menandakan pasar penerbangan nasional masih terus bertumbuh. “Bayangkan saja, dari 240 juta penduduk Indonesia, jumlah penumpang udara sepanjang 2011 baru 70 juta, sedangkan satu orang diperkirakan rata-rata terbang 2-3 kali per tahun, artinya hanya sekitar 30-an persen dari total penduduk Indonesia yang sudah menikmati moda pesawat udara,” ungkap Herry.

Menurutnya, pasar penerbangan nasional masih terus bertumbuh sekitar 15%-20% per tahun, seiring pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata 6% setahun. Pada Semester I/2012 ini saja, jumlah penumpang udara sudah bertumbuh 19% menjadi 38 juta orang, baik penumpang domestik maupun internasional.

Dia menargetkan hingga akhir tahun jumlah penumpang udara dua kali lipat dari jumlah semester satu, yakni sekitar 76 juta penumpang. Angka ini hanya pertumbuhan secara moderat, belum menghitung peak season Natal dan Tahun Baru yang tentunya angkanya akan lebbih tinggi.

“Pertumbuhan jumlah penumpang ini sudah diperhitungkan perusahaan penerbangan di Tanah Air dengan meresponnya melalui penambahan armada maupun mendirikan anak usaha baru untuk melayani penerbangan kelas yang berbeda seperti Lion Air dengan Batik Air,” jelasnya.

Dikatakan, penambahan kapasitas dengan menambah armada oleh maskapai di Tanah Air tidak menyebabkan kelebihan pasokan, karena pertumbuhan penawaran mengikuti pertumbuhan permintaan.

“Jadi persaingan dibisnis penerbangan nasional masih kompetitif, masih persaingan sehat. Kalaupun ada satu-dua maskapai yang mengurangi rute terbangnya, ataupun menutup usahanya, bukan karena pasar yang sudah jenuh, tetapi karena strategi usaha untuk menjaga efisiensi,” ungkap Herry. (*)

Facebook Comments