October 18, 2018

Berbagai Tradisi Minum Teh yang Unik

Gaya Maroko
Gaya Maroko

Jakarta (Paradiso0 – Masing-masing negara bahkan daerah ternyata memiliki ritual tradisi minum teh yang unik. Tradisi tersebut merupakan sebagian bagian dari kekayaan budaya yang meliputi kegiatan persiapan ritual dan tata cara penyajian teh sesuai keragaman nilai masing-masing budaya.

Beberapa budaya bahkan memiliki nilai lebih, sebagai contoh para “sommeliers” teh tidak hanya membutuhkan pengetahuan tetapi juga ketrampilan dalam memilih dan menggunakan alat-alatnya, seperti yang dihadirkan Teh Gunung Subur dengan dipandu Ratna Somantri pada acara Tea in Tradition Media Briefing di Jakarta, Rabu (13/11/13).

Menurut Ratna, pendiri Komunitas Pecinta Teh dan penulis buku “Kisah dan Kasiat Teh,” teh baginya adalah minuman yang sangat spesial. Hal itu dikarenakan walaupun teh berasal dari Tiongkok, tapi pada saat masuk ke negara lain bisa tercipta suatu tradisi atau budaya berbeda dalam minum teh.

Berikut ritual tradisi minum teh yang unik itu dimulai dari:

Maroko

Di Maroko proses menyeduh teh membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan negara-negara lain. Mereka harus melalui tiga kali penyeduhan untuk mendapatkan rasa yang pas menurut mereka.

Masyarakat Maroko sangat suka dengan teh hijau yang beraroma mint sehingga mereka menyeduh teh hijau dengan sedikit air mendidih di teko teh. Kemudian teko tersebut di goyang-goyangkan, lalu di tuang di salah satu cangkir. Setelah itu mereka seduh lagi, tapi kali ini airnya di buang. Yang terakhir mereka seduh lagi dengan memasukkan daun mint dan gula secukupnya. Air seduhan pertama di masukkan juga ke dalam teko tersebut, lalu digoyang-goyangkan lagi, dan akhirnya air seduhan ketiga baru bisa dinikmati.

Air seduhan pertama adalah penentu untuk menguatkan rasa teh. Dan cara menuangkannya pun dengan mangangkat teko cukup tinggi dari cangkir. Sambil menyeduh tuan rumah berbincang-bincang pada tamu tersebut.

Inggris

Di Inggris saat disediakan afternoon tea jangan membiarkan sendok berbunyi ketika mengaduk gula. Setelah mengaduk letakkan sendoknya dibelakang cangkir. Bila afternoon teanya sambil duduk maka ketika minum piring dari cangkir tersebut jangan diangkat cukup cangkirnya saja. Tetapi bila minum tehnya berdiri maka piring dari cangkir tersebut ikut dipegang/diangkat.

Apabila disediakan susu, harus menuangkan tehnya terlebih dahulu baru susunya, hal itu untuk mengetahui tingkat kepekatan teh, biasanya mereka memakai teh hitam.

Rusia

Budaya minum teh di Rusia lebih unik. Mereka menyukai teh yang pekat yang dihasilkan dari samovar, yakni alat penyeduh teh yang sering disebut guci logam dengan keran di bagian bawah dan cerobong asap kecil di bagian atas. Daun teh di letakkan di atas samovar dan akan menghasilkan teh yang pekat.

Mereka menikmati teh tidak menggunakan gula atau madu, melainkan dengan pendamping selai rasa buah. Pertama mereka meneguk teh lalu menyendok selai dan meminum teh lagi.

Bila kita disajikan saat bertamu seperti itu berarti mereka telah menghormati kita sebagai tamu.

Minangkabau

Minangkabau terkenal dengan minuman khasnya yakni teh Talua yang rasanya sangat khas dan enak. Teh ini biasa diminum ketika ada orang Minang yang merantau pulang kampong. Yang merantau ini mentraktri teman-temannya sambil minum teh tersebut mereka bercerita.

Minuman ini dibuat dengan cara kuning telur ayam kampong diaduk sampai berbusa bersama gula pasir di dalam gelas, bisa menggunakan mixer, namun kocokan aslinya dengan menggunakan bambu selama kurang lebih lima menit. Setelah itu diseduhkan air larutan teh panas/mendidih 100 persen.

Teh Talua yang berkualitas tinggi itu membentuk tiga lapisan di dalam gelas. Pada lapisan pertama itu buriah, kedua berwarna kecoklatan, dan yang ketiga warna putih. Bisa diberi kayu manis atau lemon untuk mengurangi rasa amis dari telurnya.

Tegal

Minum teh di Tegal bisanya menggunakan poci dengan diberi gula batu, dan tidak disediakan sendok. Tidak dibenarkan mengaduk. Sehingga si peminum akan merasakan rasa pahit dulu lalu makin kebawah baru akan merasakan manis, karena ada filosofi awalnya kita harus merasakan pahit dahulu baru manisnya.

Bila tuan rumah menyajikan teh dengan makanan, itu tandanya kita sudah dianggap keluarganya. Kalau belum disajikan berarti belum dianggap keluarga.

Yogyakarta

Di Yogyakarta terkenal dengan teh oplosan, biasanya jenis teh melati yang di oplos, menggunakan minimal tiga merek hingga mendapatkan rasa yang pas. (vira)

Facebook Comments