December 18, 2017

Biro Perjalanan Wisata di Bali Sulit Berkembang

Kini hotel dan maskapai berhubungan langsung dengan customer lewat sistem online.

Bali (Paradiso) – Pesatnya pertumbuhan industri pariwisata di Pulau Dewata yang berbanding terbalik dengan kondisi usaha biro perjalanan wisata yang semakin memprihatinkan dan sulit berkembang. Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Bali mencatat dari 628 perusahaan biro perjalanan wisata (BPW) yang terdaftar pada 2010, jumlahnya menyusut tinggal 307 perusahaan per 2011.

Al Purwa, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali menuturkan dari sekitar 350 BPW yang tergabung di Asita, saat ini tinggal 100-150 perusahaan yang masih beroperasi. Itu pun hanya perusahaan BPW bermodal besar yang juga memiliki bisnis perhotelan dan jasa transportasi sehingga masih bisa menyelenggarakan paket perjalanan wisata.

“Sementara sisanya sebagian besar beroperasi pas-pasan karena lahan BPW susut drastis, sangat jomplang sekarang. Karena hotel dan maskapai saat ini lebih banyak berhubungan dengan publik secara online, semakin jarang yang menggunakan jasa agen,” ujarnya.

Dikatakan, selain itu, persaingan usaha BPW di Bali juga semakin tidak sehat karena banyak perusahaan sejenis yang beroperasi secara tidak resmi atau ilegal. Berdasarkan perkiraan kasar Asita Bali, lebih dari 500 BPW ilegal yang beroperasi di Bali saat ini.

Sementara Agung Suryawan Wiranatha, Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan (PPKK) Universitas Udayana, mengatakan secara umum kondisi usaha BPW yang resmi dan masih aktif beroperasi di Bali semakin memprihatinkan. Selain karena berkurangnya jumlah wisatawan yang ditangani dan rendahnya penghasilan usaha, tekanan terbesar bagi BPW di Bali lebih disebabkan oleh persaingan yang tidak sehat.

“Itu akibat dari persaingan yang tidak fair oleh usaha BPW freelance dan online yang tidak terdaftar atau ilegal, serta persaingan dengan BPW yang terafiliasi dan modalnya berasal dari investor luar,” katanya.

Berdasarkan survei PPKK bersama Asita terhadap 100 pengusaha BPW di Bali pada 2011, sebanyak 58% memiliki investasi kurang dari Rp500 juta atau dikategorikan usaha kecil dan menengah.

“Dengan investasi yang relatif kecil tersebut, maka akan sulit bagi mereka untuk mengembangkan usaha. Alalagi untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan BPW yang memiliki modal lebih tinggi atau yang berafiliasi dengan BPW luar negeri,” ungkapnya.

Dikatakan, apabila melihat komposisi permodalan, saat ini semakin banyak persentase investor nasional dan asing yang menanamkan modalnya di BPW Bali. Pada tahun lalu, sekitar 20% BPW di Bali yang melibatkan permodalan nasional dari luar pulau dan sekitar 18% berasal dari luar negeri.

“Hal ini juga menjadi ancaman yang serius bagi pengusaha lokal Bali. Apalagi penanaman modal asing tersebut biasanya diikuti dengan kerjasama oleh perusahaan BPW di luar negeri. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penataan dan penertiban BPW ilegal sesegera mungkin agar persaingan usaha menjadi sehat,” katanya.

Ditambahkannya, selain itu, pemerintah juga perlu mendorong berkembangnya BPW yang mampu menangani wisata MICE (meeting, incentives, convention & exhibition) dan wisata cruise line sehingga terjadi sinergi dan saling mendukung pertumbuhan masing-masing. (*/bisnis bali)

Facebook Comments