Gaet Wisatawan Berkualitas Melalui Wisata Minat Khusus

Firmansyah Rahim (kanan) dan Achyaruddin (tengah) saat jumpa pers sebelum acara lokakarya dimulai.

Bogor (Paradiso) – Pariwisata kini menghadapi tren perubahan paradigma dari massive tourism (wisata massal) menjadi special interest tourism (wisata minat khusus). Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus dan Mice Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Achyaruddin mengatakan tidak perlu lagi yang dikejar kuantitas, tetapi yang kita kejar kualitas. Walau cuma wisman (wisatawan mancanegara) 8 juta, tetapi kualitasnya yang dihitung.

Ia menambahkan kualitas dapat diukur dari expenditure atau lenght of stay. Penilaian expenditure dihitung dari jumlah uang yang dikeluarkan wisman saat berwisata. Sementara lenght of stay diukur dari lamanya wisatawan menginap di suatu destinasi wisata. “Niche market (pasar ceruk) ini bisa menjadi kekuatan pariwisata Indonesia,” kata Achyaruddin saat Lokakarya Perspektif Pengembangan dan Promosi Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Even di Via Renata Hotel, Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (16/6/2012).

Sebab, lanjutnya, Indonesia memiliki garis pantai yang panjang, gunung yang banyak, bahkan budaya dan kuliner yang sangat beragam. Hanya saja, ungkapnya, pengembangan wisata minat khusus tersebut harus fokus.

Sementara itu, Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, Firmansyah menyebutkan fokus pengembangan diperlukan mengingat Indonesia memiliki alam dan budaya yang sangat beragam dan semuanya dapat dikembangkan sebagai wisata minat khusus. “Seperti wisata bahari, kami targetkan ke tiga hal, yacht, cruise, dan diving. Ada target-targetnya, seperti yacht di 2015 kami targetkan kedatangan 15 ribu yacht,” tuturnya.

Selain wisata bahari, wisata minat khusus yang akan dikembangkan adalah wisata kuliner. Menurut Firmansyah, perlu adanya standarisasi pada masakan-masakan Indonesia, termasuk dimodifikasi sesuai lidah orang asing.

“Wisata kesehatan, sudah mencoba dua pola perjalanan untuk wisata kesehatan. Sekarang kawan-kawan kementerian kesehatan mengundang kita untuk perbaikan rumah sakit dengan kaitan wisata kesehatan. Bisa combine dengan spa juga,” katanya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah mengembangkan wisata minat khusus dengan tujuh tema yaitu wisata budaya dan sejarah; wisata alam dan ekowisata; wisata olah raga rekreasi; wisata kapal pesiar; wisata kuliner dan belanja; wisata kesehatan dan kebugaran; serta wisata konvensi, insentif, pameran, dan even.

Didominasi Perusahaan Asing

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di wisata bahari di Indonesia yang masih didominasi oleh perusahaan asing. Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali, Yos WK Amerta mengatakan bahkan di Bali perusahaan operator diving dan watersport ada sekitar 200. Yang saya takutkan perlahan-lahan perusahaan Indonesia hilang. Ambil contoh yang operator di Pulau Komodo, tinggal dua perusahaan Indonesia yang bermain di Pulau Komodo dan sisanya perusahaan asing.

“Wisata bahari baru berkembang setelah semakin meningkatnya kunjungan wisatawan penggemar surfing. Mulai berkembangnya perusahaan bergerak di wisata bahari di Indonesia, terjadi 30 tahun yang lalu,” ujarnya.

Dikatakan yang pertama itu di Bali untuk perusahaan bergerak di wisata bahari, namanya Baruna Watersport. Baru munculah beberapa perusahaan wisata bahari di Indonesia. Saya sendiri baru di gelombang kedua dan perusahaan saya sudah 20 tahun.

“Memang memiliki perusahaan yang bergerak di wisata bahari dan berbasis di Bali. Perusahaan-perusahaan Indonesia di bidang wisata bahari tersebut mulai menghilang terutama karena tidak tahan terhadap krisis. Sebab, sebagian besar pelanggan mereka adalah wisatawan mancanegara,” katanya.

Ditambahkannya, baru tiga bulan krisis, perusahaan sudah goyang. Pariwisata Indonesia sudah beberapa kali menghadapi krisis. Krisis pertama saat Perang Teluk (tahun 1991). Saat itu hotel-hotel di Bali menjual 2 for 1 atau menjual 2 malam dengan harga 1 malam. Karena kurang juga, ada yang kasih harga 1 malam untuk 3 malam, bahkan sampai ada yang jual untuk 4 malam dengan harga 1 malam.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu adanya bantuan modal untuk perusahaan-perusahaan yang ada di daerah. Apalagi, perusahaan asing semakin banyak yang masuk Indonesia. Perusahaan Indonesia makin banyak berguguran. Perusahaan asing hari ke hari semakin banyak. Saat krisis, perusahaan Indonesia tidak punya tamu, mau pinjam modal ke bank, bunga bank malah saat krisis naik dari 30% menjadi 60%.

Permodalan, tambah Yos, tidak kalah penting. Dunia pariwisata sudah dibicarakan sejak 30 tahun yang lalu, namun perbankan di Indonesia tidak ada kredit khusus untuk bidang pariwisata . Selain itu, perusahaan Indonesia kalah bersaing dengan perusahaan asing karena beberapa hal.

“Perusahaan asing datang dengan membawa knowledge dan tren, hal yang belum tentu dimiliki perusahaan lokal. Tambahan lagi, perusahaan asing datang ke Indonesia dengan membawa jaringan bisnis mereka yang sudah kuat. Seringkali jaringan tersebut tak dimiliki oleh perusahaan Indonesia. Selain itu, teknologi sudah menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan asing tersebut,” ungkapnya.

Mereka punya website, lanjutnya ketika website mereka sudah berjalan, kita masih lengah dengan bertanya-tanya kenapa di sebelah tamunya banyak, kita tidak. Ternyata teknologi begitu penting untuk pengembangan pariwisata Indonesia.

Sementara menurut Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus dan MICE Kemenparekraf, Achyaruddin, pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) saat ini tengah memfokuskan pengembangan produk wisata minat khusus. Salah satu temanya adalah wisata bahari. Wisata bahari dibagi ke dalam tiga fokus, yaitu diving, yacht, dan cruise. (*)

Facebook Comments