March 20, 2019

Habibie Akan Bangun Perusahaan Penerbangan

BJ Habibie

Jakarta (Paradiso) – Mantan Presiden BJ Habibie tetap bertekad untuk meneruskan program pesawat terbang N 250 dengan menggandeng swasta. Disebutkannya, pengembangan N 250 ini akan didanai dua perusahaan yang dimiliki Eri Firmansyah (mantan kepala Bursa Efek Jakarta) dan PT il Thabie (Ilham dan Thareq Habibie).

Adapun perusahaan milik Eri Firmansyah bernama PT Eagle Cabin, keduanya bergabung di bawah bendera PT Radio Aviation Industry (RAI).

Habibie menjelaskan saham milik kedua anaknya sebesar 51%, sedangkan mitranya 49%. Saya duduk di Dewan Komisaris, tapi saya juga terjun langsung bagaimana mengembangkan teknologi pesawat.

“Perusahaan baru itu akan menandatangani kerjasama untuk memproduksi pesawat sipil komersial. PT RAI sebagai perusahaan swasta akan memakai jasa dari PT Dirgantara Indonesia dan BPPT termasuk uji desain, mesin dan sebagainya yang akan dilakukan di laboratorium milik BPPT di Puspiptek, Serpong,” ujarnya.

Dikatakan bahwa SDM yang dimiliki PT Dirgantara Indonesia dan BPPT akan dipakai dalam mengembangkan pesawat komersial. Nantinya pesawat ini bukan milik keluarga Habibie, tapi untuk masyarakat Indonesia.

“Adapun alasan menghidupkan kembali industri pesawat terbang swasta karena Indonesia memiliki aset SDM dan teknologi yang cukup besar. Bahkan, para ilmuwan penerbangan Indonesia yang sudah lama bekerja di perusahaan penerbangan asing akan kembali ke Indonesia membantu mewujudkan impian hadirnya pesawat terbang nasional,” katanya.

Ditambahkannya, selain itu saya melihat jumlah konsumen memakai jasa penerbangan naik 10 persen-15 persen. Ini pasar terbuka besar di dalam negeri. Dan jarak wilayah Indonesia cukup jauh. Jadi kita ingin menghubungkan jarak wilayah yang jauh itu dengan pesawat buatan Indonesia.

“Pesawat N 250 ini akan berisi 70 kursi, dan 17 tahun lalu, pesawat tersebut mendapat pengakuan dari badan penerbangan internasional dalam tingkat keamanan dan keselamatan penerbangan. Sekarang pun saya akan lakukan itu. PT RAI akan membayar jasa teknologi yang dimiliki BPPT dan PT DI,” ungkap Habibie. (*/ant)

Facebook Comments