January 23, 2019

Harapan Cerah Industri Tenun Sutera Garut

Mari Pangestu (kanan) saat meninjau Kampung Tenun Panawuan Sukajaya, Garut.

Garut, Jawa Barat (Paradiso) – Sejak dahulu Garut sudah terkenal sebagai daerah penghasil sutera, mulai dari bahan sutera hingga tenun sutera. Setelah mati suri sekian lama, industri tenun Garut mulai bangkit. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan industri tenun di kawasan tersebut dalam satu setengah tahun terakhir. Saat ini, industri tenun Garut telah menunjukkan peningkatan dan inovasi yang berbasis kreativitas.

Hal itu diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Pangestu saat meresmikan zona kreatif di Kampung Tenun Panawuan Sukajaya, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, Rabu (27/06/2012), dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan nilai tambah akan kerajinan tenun asal Garut. “Kami berharap kebangkitan industri tenun di Garut dapat membangun ekonomi rakyat,” ujari Mari Pangestu.

Salah satu buktinya adalah peningkatan harga kain tenun di Garut. Jika sebelumnya harga kain tenun Rp 150.000 per meter, saat ini harganya meningkat menjadi Rp 500.000 per meter. Peningkatan ini terjadi setelah Komunitas Cita Tenun Indonesia (CTI) memberikan pelatihan kepada para pengrajin.

Mari mengungkapkan kampung tenun ini didahului dengan Program Pelatihan dan Pengembangan Perajin Tenun Garut dan Majalaya dengan tujuan antara lain agar bagaimana pengrajin bisa menentukan harga yang layak dan mengetahui selera pasar.

“Peresmian Kampung Tenun ini juga diharapkan dapat mengambil secara optimal warisan budaya bangsa Indonesia sekaligus juga untuk menghargai berbagai proses kreatif yang dilakukan dalam membuat kerajinan tenun khas Garut,” ujarnya.

Mari Pangestu mengemukakan, kerajinan tenun khas Garut harus didorong untuk lebih inovatif baik dalam hal pemilihan tekstil maupun proses pembuatan dan pewarnaan sehingga dapat juga mengembangkan kearifan lokal yang terdapat di dalamnya. “Kearifan lokal itu terindikasi dari banyaknya pengrajin yang melatih keahlian dalam hal bertenun secara turun-temurun dan mereka telah melakukan hal tersebut hingga selama puluhan tahun,” terangnya.

Mari juga menyampaikan apresiasinya atas sinergi yang telah dilakukan oleh Cita Tenun Indonesia (CTI) yang melatih para pengrajin dengan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang telah bertindak sebagai “bapak angkat” atas program Kampung Tenun Garut.

Mari Pangestu (tengah) dan Okke hatta Rajasa (kiri) saat berbincang dengan perajin Tenun Sutera di Panawuan Sukajaya, Garut.

Kesempatan sama, Ketua Perkumpulan CTI, Okke Hatta Rajasa mengemukakan, pihaknya sejak 2008 hingga 2012 telah melakukan pembinaan tidak hanya di Garut dan Majalaya, tetapi juga di daerah lainnya seperti Bali, Sumatera Selatan, Banten, Kalimantan Barat, dan Lombok (Nusa Tenggara Barat).

“Kami ingin membangun kesadaran kepada masyarakat agar mereka juga dapat menghargai budaya tenun dengan layak,” kata Okke Hatta Rajasa.

Ia memaparkan, tenun Indonesia terbagi menjadi tiga macam, yaitu tenun datar, tenun songket, dan tenun ikat. Dengan pelatihan yang diberikan CTI, pengrajin tenun di Garut telah berhasil menggabungkan ketiga jenis tenun tersebut dan dikombinasikan dengan proses sulaman.

Untuk meningkatkan kelestarian tenun Garut, CTI mengembangkan keahlian perajin dan melindungi hak cipta mereka. “Kami juga berusaha meluaskan pemasarannya,” ujar Okke.

Dalam acara peresmian tersebut, Mari juga meminta agar para penenun sutera alam Garut dapat menghasilkan sendiri bahan baku produksinya yaitu sutera alam di Kabupaten Garut. Caranya dengan memperbanyak perkebunan murbai sebagai tempat produksi serat ulat sutra.

Menurut Mari selama ini para penenun sutra alam Garut masih mengandalkan pasokan bahan baku yang didatangkan dari Cina karena keterbatasan bahan baku. “Ini yang menjadi salah satu kendala dalam upaya pengembangan sutra alam di kita. Sulitnya pasokan bahan dasar juga mengakibatkan biaya proses produksi sangat tinggi,” ujar Mari.

Keindahan tenun sutera garut dalam balutan karya Sebastian Gunawan.

Saat ini pemerintah masih mempelajari agar bahan dasar benang sutera alam Garut dapat kembali diproduksi. Komitmen ini, akan diwujudkan melalui dukungan pemerintah dalam mewujudkan Garut sebagai sentra kreatif kain tenun ikat sutera alam.

“Saya optimistis produksi kain tenun ikat ini dapat memberikan efek positif yang sangat banyak bagi kehidupan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat Garut,” kata Mari.

Bahkan, dalam pengembangannya ke depan, ia merencanakan melibatkan sejumlah desainer nasional untuk memperkenalkan kain tenun ikat dari sutra alam Garut tersebut. “Jadi nanti, kain tenun ikat ini bisa kita jadikan pakaian nasional selain batik yang sama-sama akan digunakan setiap hari Jumat,” katanya.

Selain itu, pemerintah pun akan membantu mempromosikan dan memasarkan sutera alam tersebut, karena banyak wisatawan mancanegara yang menyukai kain sutra Garut,” ucap Elka.

Sedangkan Dirut PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, pihaknya bersama-sama dengan CTI telah membina para pengrajin tenun melaui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

Hendi memaparkan, pihaknya dalam kurun waktu enam bulan telah membantu merenovasi “workshop” (lokakarya), penyediaan mesin dan ruang galeri guna memperlancar proses produksi, meningkatkan kualitas, serta upaya menarik minat pengunjung dan wisatawan.

“Ini untuk membantu para perajin tenun agar menjadi pengusaha yang tangguh dan mandiri,” kata Dirut PGN.

Setelah peresmian Kampung Tenun Garut, acara pun ditutup oleh fashion show dari Sebastian Gunawan. Sebastian mengeksplor kembali kain tenun yang cantik menjadi terusan yang elegan. Bagi Anda yang ingin mengoleksinya, segera kunjungi Kampung Tenun Garut di Desa Panawuan. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 1 jutaan. (*)

Facebook Comments