October 19, 2018

Menparekraf Promosikan 16 Destinasi Indonesia ke Korsel

Dubes RI untuk Korea Selatan, Menparekraf, dan manager VITO

Jakarta (Paradiso) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu belum lama mengunjungi Korea Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Mari Pangestu menyempatkan ke Busan Indonesia Center (BIC) untuk bertemu para pengusaha, pendidik, pemerintah daerah dan perwakilan VITO Indonesia di Busan.

Dalam kunjungannya ke BIC, Menparekraf bersama rombongan mempromosikan 16 destinasi pariwisata Indonesia yang menjadi prioritas pengembangan. Destinasi tersebut antara lain Danau Toba di Sumatera Utara, Kepulauan Seribu yang terletak di Jakarta, Kota Tua di jantung kota Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Bromo – Tengger – Semeru di Jawa Timur, Danau Batur di Kintamani, Pulau Menjangan di Bali, Kuta, Sanur dan Nusa Dua, Gunung Rinjani, Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Ende – Kelimutu yang terletak di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Suku Toraja di Sulawesi Selatan, Bunaken yang terletak di Sulawesi Utara, Wakatobi di Sulawesi Selatan dan juga Raja Ampat di Papua barat.

Mari Pangestu mengatakan Korea Selatan merupakan pasar potensial bagi Indonesia, tahun 2010 Indonesia menerima 296.060 wisatawan dari Korea Selatan dan pada tahun berikutnya yaitu tahun 2011, jumlah ini meningkat sebanyak 7.24%.

“Korea Selatan penyumbang wisman ke Indonesia terbesar ke tujuh. Untuk tahun 2012, Indonesia menetapkan target 320.000 wisatawan dari Korea Selatan. Sebagai kota terbesar kedua di negara tersebut, Busan dengan populasi sebanyak 15 juta penduduk menjadi lokasi yang penting untuk promosi Indonesia. Hal ini didukung dengan adanya Busan Indonesia Center yang terletak di Busan Utara yang meliputi Visit Indonesia Tourism Office, Garuda Office and Counsellor Office di satu kawasan terpadu,” ujar Mari Pangestu.

Melihat Industri Kreatif Korsel

Selain untuk mempromosikan Indonesia sebagai destinasi wisata terkemuka, juga melihat industri film dan digital di Busan. Busan dikenal sebagai pusat film, media dan perkembangan konten digital, termasuk Festival Film Busan (BIFF). Festival ini merupakan festival film bergengsi di Asia yang menjadikan kota Busan sebagai pusat perkembangan film di Korea Selatan. Festival Film Busan pertama kali diselenggarakan pada tahun 1995 dengan 173 film dari 31 negara dan pada tahun 2011 pesertanya berjumlah 307 film dari 70 negara.

“Kita bisa belajar banyak dari Busan dalam membangun pusat film dan konten digital. Pendekatan yang diterapkan di Korea Selatan sangat komprehensif, mulai dari pengembangan SDM dengan adanya sekolah film dan konten digital yang berkualitas, ditambah dengan BIFF yang bergengsi untuk mendukung pemerintah daerah dan pusat. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman mereka, dan bisa meningkatkan kerjasama untuk meningkatkan kualitas SDM dan meningkatkan festival film di negara kita,” ujar Mari Pangestu. (*)

Facebook Comments