January 23, 2019

Pariwisata Sektor Penting Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Sapta Nirwandar saat membuka Konferensi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan.

Bali (Paradiso) -Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar mengatakan pembangunan di berbagai bidang di dunia dewasa ini mengarah pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan ini menitikberatkan pada tiga pilar kebijakan yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial budaya, dan perlindungan lingkungan.

Hal ini disampaikan Sapta ketika membuka secara resmi Konferensi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang diselenggarakan di Bali, Kamis (13/9).

Konferensi dihadiri oleh segenap pemangku kepentingan yang berasal dari instansi pemerintah pusat dan daerah, asosiasi dan industri pariwisata, pengelola destinasi wisata, akademisi, dan LSM.

Tercatat sejumlah pakar pariwisata yang merupakan perwakilan organisasi internasional World Tourism Organization (UNWTO) dan International Labour Organization (ILO), beserta para praktisi dan LSM pariwisata hadir sebagai pembicara dalam konferensi ini.

Lebih lanjut Sapta menyampaikan pengakuan terhadap pentingnya pariwisata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di dunia tercermin pada hasil pertemuan tingkat kepala negara dalam forum G20 dan Rio+20.

Pertemuan G20 yang berlangsung tanggal 18-19 Juni 2012 di Los Cabos, Meksiko, menghasilkan Leaders’ Declaration yang secara eksplisit memasukkan pariwisata sebagai salah satu sektor yang memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang layak. Kemudian forum United Nations Conference on Sustainable Development (UNCSD) Rio+20 yang berlangsung tanggal 20-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brasil, juga menempatkan pariwisata sebagai sektor pendukung pembangunan berkelanjutan dan berperan penting dalam melestarikan keaneka-ragaman hayati serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenparekraf, telah menyusun sejumlah kebijakan di tingkat nasional yang mendukung pelaksanaan pembangunan pariwisata berkelanjutan, yaitu UU Pariwisata No 10 tahun 2009 dan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPARNAS 2010-2025). Kemenparekraf juga menjalin kerjasama dengan organisasi internasional yaitu UNWTO dan ILO dalam menata kelola destinasi agar selalu mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan, misalkan saja efisiensi energi, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pekerjaan yang layak yang memperhatikan aspek lingkungan (green jobs).

Sejalan dengan itu, Kemenparekraf bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan ILO telah selesai menyusun Strategic Plan on Sustainable Tourism and Green Jobs yang secara resmi dirilis pada saat pembukaan konferensi. Strategic Plan berfungsi sebagai saran kebijakan dalam menentukan arah pengembangan profesi bidang pariwisata yang mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Pada dasarnya, prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan telah lama diterapkan sejak nenek moyang kita, dimana masing-masing daerah memiliki nilai-nilai kelokalan tersendiri. Masyarakat lokal di Bali sudah sejak lama menerapkan falsafah hidup ‘Tri Hita Karana’ (keharmonisan hubungan antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Sesamanya, dan Manusia dengan Alam) yang merupakan contoh nyata konsep pembangunan berkelanjutan.

Dengan adanya konferensi ini, Sapta mengharapkan agar nilai-nilai lokal yang merupakan bagian dari prinsip pembangunan berkelanjutan ini juga dapat diterapkan secara sungguh-sungguh dalam pembangunan pariwisata di seluruh destinasi. Sebagai contoh nyata di bidang pariwisata adalah Desa Pemuteran di kawasan Bali Barat.

Penerapan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan oleh masyarakat setempat telah mengubah Desa Pemuteran yang dahulu merupakan wilayah kering dan terbelakang menjadi destinasi wisata terkenal di dunia. Masyarakatnya juga berinisiatif membentuk Yayasan Karang Lestari yang fokus pada upaya pelestarian terumbu karang dan penangkaran penyu. Atas upayanya inilah, dalam pembukaan konferensi ini pemerintah memberikan penghargaan kepada Yayasan Karang Lestari. Para peserta juga diberi kesempatan untuk mengunjungi langsung Desa Pemuteran pada kegiatan site visit keesokan harinya, pada hari Jumat (14/9). (*)

Facebook Comments