August 16, 2018

Pembiayaan Industri Kreatif Diupayakan Meningkat

Seminar Nasional Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Design dan Iptek di Grand Mercure Hotel, Jakarta.

Jakarta (Paradiso) – Akses pembiayaan bagi industri kreatif di Indonesia diupayakan meningkat melalui penyempurnaan kebijakan perbankan nasional, demikian disampaikan pejabat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

“Ini salah satu program prioritas kami yakni meningkatkan akses pembiayaan bagi industri kreatif,” kata Plt. Direktur Desain dan Arsitektur pada Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK Kemenparekraf, Poppy Savitri saat Seminar Nasional Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Design dan Iptek di Grand Mercure Hotel, Jakarta, Kamis (08/11/2012).

Pihaknya mengakui dukungan perbankan untuk industri kreatif sampai saat ini belum optimal karena sebagian besar perbankan belum melihat sektor itu memiliki prospek yang cerah.

Oleh karena itu, pihaknya sedang mengupayakan berbagai cara untuk meningkatkan akses insan kreatif pada sumber pembiayaan.

“Kami berupaya meningkatkan akses pembiayaan melalui berbagai skema di antaranya Kredit Usaha Rakyat, PKBL BUMN, PNPM, dan CSR perusahaan untuk usaha bidang media, desain, dan IPTEK,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah telah bertekad untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi dengan investor sebagai salah satu solusi menghadapi persoalan pembiayaan. “Kami juga sedang terus berusaha untuk memperkuat tata kelola sistem transaksi online,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI), Ardian Elkana, mengatakan, pada dasarnya dana bukan kendala utama bagi insan kreatif untuk berkreasi. “Kami ini orang kreatif kalau dana bukan persoalan utama, suku bunga perbankan juga tidak ekonomis untuk membiayai usaha kami,” katanya.

Pihaknya justru lebih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan. “Saat ini yang kami butuhkan adalah one single policy berupa wajib tayang animasi lokal di televisi, satu jam cukup,” katanya.

Ia mencontohkan, industri film animasi di China berkembang pesat berkat kebijakan wajib tayang animasi lokal tersebut. Menurut dia, sampai saat ini televisi-televisi di Indonesia belum memberikan jam tayang yang optimal dan belum memberikan ruang yang lapang bagi perkembangan animasi lokal. (*)

Facebook Comments