TN Tanjung Puting Makin Menggeliat Dengan DMO

Perahu kelotok membawa wisatawan masuk ke TN Tanjung Puting.
Perahu kelotok membawa wisatawan masuk ke TN Tanjung Puting.

Pangkalan Bun, Kalteng (Paradiso) – Taman Nasional (TN) Tanjung Puting terletak di semenanjung Kalimantan Tengah, tepatnya di Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalteng. Di sini terdapat konservasi orangutan terbesar di dunia dengan populasi diperkirakan 30.000 sampai 40.000 orangutan yang tersebar di taman nasional dan juga di luar taman nasional ini. Dengan status TN dan cagar biosfer TN Tanjung Puting ini dapat terjaga kelestariannya dan merupakan daya tarik salah satu wisata unggulan di Indonesia.

Di TN Tanjung Puting ini kita dapat melihat habitat alami orangutan secara langsung dan melihat kehidupan mereka di alam liar. Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa dengan luas total 305.000 Ha.

Sejak tahun 2010, TN Tanjung Puting mendapatkan program DMO (Destination Management Organization) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. Program DMO merupakan program tata kelola pariwisata yang terpadu dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan stakeholder pariwisata yang ada di Tanjung Putting, baik pemerintah daerah, masyarakat maupun pelaku pariwisata.

Belum lama ini, saya dan tiga media dari Jakarta berkesempatan mengunjungi TN Tanjung Puting untuk melihat langsung dampak dari program DMO yang telah berjalan selama 2 tahun. Kami bertiga berangkat menuju Tanjung Puting dengan difasilitasi Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kemenparekraf.

Sesampai di Bandara Pangkalan Bun, kami dijemput pemandu yang bernama Yoemi Kamale, dan kamipun langsung melanjutkan perjalanan menuju dermaga Kumai.

Wisatawan bisa melihat langsung habitat orangutan di Camp Leakey.
Wisatawan bisa melihat langsung habitat orangutan di Camp Leakey.

Di perjalanan, Yoemi yang merupakan juga anggota Kelompok Kerja DMO menjelaskan, sejak adanya DMO banyak manfaat yang dapat dia rasakan. Mulai dari pelatihan menjadi pemandu wisata yang berkualitas juga ada pembelajaran bahasa inggris yang baik.

“Kami bisa lebih profesional memandu wisatawan asing yang datang ke Tanjung Puting, dan kami para pemandu bisa berkumpul dan tukar informasi serta pengalaman. Itu menjadi sarana kedekatan dan persatuan diantara pemandu wisata,” ujar Yoemi saat perjalanan menuju TN Tanjung Putting, Rabu (27/11/2013).

Yoemi bercerita, dulu para pemandu wisata tidak terdaftar dan terorganisir seperti ini, siapa saja bisa masuk kesini. Kini semua tour guide terdaftar dan lebih terorganisir.

“Bila ada wisatawan datang masuk akan ditanya dulu siapa tour guidenya, bila namanya tidak muncul di daftar kami maka mereka tidak bisa masuk ke area Tanjung Puting. Karena ini area konservasi mesti dijaga betul kelestariannya, perlu tindakan khusus memandu di area ini,” jelas Yoemi.

Kelebihan Tanjung Puting adalah berbeda dengan tempat wisata lain yang biasanya didominasi pengelola asing, disana semuanya warga lokal. “Mulai dari penyewaan perahu, pemandu wisata hingga tempat menginap wisatawan, semuanya dikelola oleh warga lokal,” ujar pria keturunan Flores-Sunda yang lahir dan besar di Kalteng ini.

Cara yang terbaik untuk mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting adalah dengan menggunakan kapal klotok. Kenapa dinamakan dengan kapal klotok, karena kapal ini bunyinya tok-tok-tok sehingga masyarakat sekitar memberi nama kapal klotok.

Kapal klotok ini merupakan akomodasi yang cukup nyaman yang mampu memuat 7 sampai 12 penumpang. Laju kapal ini juga tidak terlalu kencang, sehingga kita bisa menikmati suasana Sungai Sekonyer di sepanjang jalan menyusuri sungai. Dengan kapal ini para penumpang dapat menikmati sunset, kunang-kunang dan bekantan (monyet hidung mancung) yang terkadang terlihat di pinggiran sungai.

Sebagian besar pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting ini adalah wisatawan asing. Banyaknya wisatawan asing yang datang ke sini membuat masyarakat sekitar lebih meningkatkan pelayanan mereka. Program DMO turut membantu dalam peningkatan pelayanan dengan menggelar bimbingan teknis (bimtek) pada pemandu wisata setempat.

Bentuk lain kegiatan bimtek yakni mengenai pengelolaan pertanian organik dan pembuatan kerajinan tangan menggunakan bahan daur ulang sampah kepada puluhan warga Desa Sekonyer. DMO bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kobar dan beberapa biro perjalanan wisata, pelatihan biasanya berlangsung selama satu-hingga dua hari.

“Dengan melakukan kegiatan pertanian organik dan membuat kerajinan tangan dari bahan daur ulang, diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan dan juga dapat memberi pendapatan langsung dari penjualan hasil karya mereka,” kata Ali Nurman, Staff Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf, sekaligus Pelaksana Teknis DMO Tanjung Putting dalam kesempatan berbeda.

Ali menjelaskan, Desa Sekonyer mempunyai posisi yang strategis karena merupakan jalur utama menuju Camp Leakey, titik masuk TN Tanjung Putting. Pada musim ramai, ribuan wisatawan baik lokal maupun asing menyusuri Sungai Sekonyer dengan puluhan kelotok wisata. Saat ini, Tim DMO Tanjung Puting berusaha keras untuk melibatkan masyarakat Desa Sekonyer dalam lingkaran bisnis pariwisata.

Wisatawan selama ini membeli souvenir di Kumai atau Kota Pangkalan Bun, lanjut Ali, Apabila warga Sekonyer bisa membuat souvenir sendiri akan menambah pendaptan warga. Tim DMO bekerjasama dengan pelaku usaha wisata bisa mengarahkan wisatawan untuk singgah di desa tersebut. Selain souvenir, sayuran merupakan salah satu komoditas yang paling laku untuk mensuplai keperluan memasak bagi klotok-klotok (perahu) wisata. Selama ini, kebanyakan kelotok wisata masih berbelanja sayuran dan sembako di Pasar Indrasari Pangkalan Bun. “Ini semua akan menambah pendapatan masayarakat sekitar,” ujar Ali.

Salah satu tempat menarik di Tanjung Puting adalah Kamp Leakey, tempat pelestarian orangutan. Memang sebelum menuju ke Kamp Leakey ini ada terdapat kamp-kamp lain seperti Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, Camp Pondok Ambung, dan yang terakhir adalah Kamp Leakey.

Masuk ke area Camp Leakey.
Masuk ke area Camp Leakey.

Kamp Leakey merupakan yang terbesar dan dibangun pada tahun 1971. tempat ini merupakan lokasi berlindung orangutan yang diselamatkan dari perburuan liar. Saat ini kamp ini dikenal sebagai pusat penelitian orangutan.

Kita dapat mempelajari orangutan di pusat informasi Kamp Leakey. Memberi makan orangutan tidak diperbolehkan di Kamp Leakey dan kamp-kamp lain. Kamp ini akan selalu dijaga dan tetap penting karena orangutan merupakan spesies yang terancam punah, terancam oleh dampak deforestasi dan perdagangan ilegal hewan peliharaan. Anda akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dari dekat primata menakjubkan ini dan belajar lebih banyak tentang bagaimana kita dapat melindungi spesies yang terancam punah dari pulau Kalimantan.

Wisatawan Meningkat

Kesempatan terpisah, Lokot Ahmad Enda Direktur Perancangan dan Investasi Pariwisata, Kemenparekraf mengatakan salah satu tujuan dibuatnya program Destination Management Organization (DMO) adalah untuk meningkatkan wisatawan yang datang.

Hasilnya, beberapa destinasi yang masuk dalam DMO mengalami kenaikan jumlah kedatangan turis. “Yang terlihat dari DMO ini adalah peningkatan kunjungan jumlah wisatawan,” ungkap Lokot.

Lokot memberi contoh jumlah kunjungan wisatawan di Tanjung Puting. Saat pertama kali Kemenparekraf masuk ke TNTP untuk pengenalan DMO pada tahun 2010, jumlah wisatawan yang datang sebesar 3 ribu orang. “Pada 2012 meningkat sebesar 12 ribu wisatawan dengan pengeluaran rata-rata Rp 3,5 juta per orang,” jelasnya.

DMO meningkatkan kerja sama setiap elemen dalam peningkatan wisata terkait satu sama lain. Jika tiap hal dikerjakan secara bersama-sama, maka ia yakin wisata Tanjung Puting semakin maju dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat. (tri wibowo)

p

Facebook Comments