TOGEAN: Diversifikasi Aktifitas dan Pasar Wisata

toge(Dr. Amin Abdullah, M. Sn, MA)

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una Provinsi Sulawesi Tengah melakukan terobosan dengan menghelat kegiatan Famirizitation Trip (Fam Trip) sebagai salah satu kegiatan mempromosikan destinasi wisata Togean. Fam Trip atau dapat diterjemahkan perjalanan wisata pengenalan, merupakan anjangsana untuk lebih mengenalkan potensi sebuah wilayah tujuan wisata yang sedang berkembang.

Peserta Fam Trip destinasi Kepulauan Togean diikuti oleh jurnalis, praktisi pariwisata, pengelola hotel, dan travel agent baik dari Bali, Jakarta, Makassar, Manado, serta Palu. Dengan demikian, hasil dari Fam Trip ini dapat membantu promosi Togean serta sumbangan pemikiran-pemikiran praktisi Pariwisata yang ujungnya mampu mendongkrak jumlah wisatawan.

Tulisan ini merupakan hasil cermatan penulis, sari dari diskusi-diskusi peserta fam trip  setelah mengikuti kegiatan tersebut. Fam trip yang berlangsung sejak tanggal 15 – 19 Maret 2015 ini dimulai dengan mengunjungi beberapa hotel dan penginapan serta Bandara Udara Tanjung Api di Ampana. Peserta Fam Trip kemudian menuju destinasi kepulauan Togean dengan masing – masing mengunjungi Pulau Tipae, Pulau Poyalisa, Pulau Bomba, Pulau Siatu, Pulau Tumbulawa, Pulau Kadidiri, Pulau Pangempa. Pulau Malenge dan Pulau Kabalutan. Tulisan ini berintikan bahwa untuk pengembangan Togean ke depan, destinasi ini potensial untuk menjadi salah satu target kunjungan wisatawan baru di luar Bali. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan diversifikasi aktivitas dan segmen pasar destinasi ini.

 

Diversifikasi Aktivitas

Togean cukup identik dengan aktivitas pariwisata bahari yakni diving dan snorkeling. Analisis Pasar Pariwisata Sulawesi Tengah tahun 2013 menunjukkan bahwa aktivitas wisata bahari tersebut menjadi aktivitas utama yang dilakukan wisatawan selama berada di Togean dari keseluruhan aktivitas yang mungkin dilakukan oleh 4.369 wisman dan 174.432 wisatawan nusntara.

Peluang untuk memperbanyak rangkaian kegiatan yang lain sangat dimungkinkan.  Untuk wisata bahari, aktivitas dapat diperbanyak dengan memancing, olahraga air seperti water scooter, penambahan jenis kenderaan laut seperti ocean yacthing, glass boat viewing, atau cano.

Wisata alam kemudian dapat menjadi pilihan selanjutnya. Potensi alam yang ada di Pulau Bomba memberikan peluang kepada pencinta trekking (petualangan dengan berjalan kaki di lingkungan alam). Wisata alam kemudian dapat ditingkatkan dengan birdwachting (melihat burung) Allo di Pulau Tumbulawa atau mengunjungi hutan mangrove di Pulau Ketupat. Yang dibutuhkan yakni adanya informasi atau deskripsi singkat mengenai flora dan fauna di destinasi tersebut.

Togean juga potensi untuk menyelenggarakan wisata budaya. Kehidupan keseharian masyarakat Bajo di pulau Papan dan di Pulau Kabalutan bisa jadi menjadi potensi yang menarik. Rumah mereka yang berada di atas tepi laut, memungkinkan para turis untuk melihat konsep pemukiman yang berbeda dari orang yang tinggal di benua atau pulau besar. Dari jendela rumah, para wisatawan dapat melihat ikan maupun tumbuhan tumbuhan laut yang lain.

Yang dibutuhkan yakni menyiapkan masyarakat untuk dapat berinteraksi dengan turis. Dengan demikian dapat dibuat aktivitas wisatawan tinggal bersama masyarakat.  Keramahtamahan, kebersihan lingkungan, serta menjaga keamanan turis menjadi faktor yang perlu dikedepankan. Selain itu, diperlukan juga etnografi budaya Bajo yang dapat dibaca oleh para wisatawan. Etnografi singkat yang menjelaskan aspek antropologi masyarakat lokal akan memudahkan para wisatawan mamahami dan menikmati keseharian orang Bajo.

Di Pulau Kabalutan misalnya, ada istilah lain untuk menyebut pulau ini dengan Pulau Janda. Sebutan tersebut berkaitan dengan banyaknya janda yang berada di pulau tersebut. Penjelasan budaya Bajo sebagai gypsy sea orang laut yang hidup berpindah-pindah memudahkan wisatawan memahami penamaan tersebut. Ada tradisi di kampung tersebut bahwa para wanitanya tidak mengikuti suaminya yang merantau untuk berpindah ke pulau lain.

 

Diversifikasi Pasar

Dengan mempunyai beragam aktivitas, maka dengan sendirinya Togean membuka lebih lebar lagi segmen pasar yang mengunjunginya. Selama ini pasar wisatawan Togean identik dengan pasar Eropa tengah, terutama Jerman dan Perancis dengan spesifikasi kalangan menengah ke bawah serta aktivitas utama diving.

Diversifikasi pasar memungkinkan Togean dapat dikunjungi sebuah keluarga dengan jumlah yang besar. Bila sebuah keluarga yang terdiri dari suami istri, anak dan kerabat berkungjung ke Togean, maka bisa saja tidak semua dari mereka melakukan aktivitas menyelam. Anggota keluarga yang lain dapat saja melakukan trekking, birdwatching atau wisata budaya.

Disamping itu segmen pasar juga dapat diperluas pada kalangan menengah ke atas. Berbeda dengan wisatawan backpacker pada kalangan menengah ke bawah, wisatawan di segmen ini adalah mereka yang tidak bernegosiasi dengan harga tetapi lebih pada bernegosiasi dengan waktu. Dengan akan beroperasinya bandara udara Tanjung Api akan memangkas waktu jarak tempuh ke kepulauan Togean, baik dari Palu, Makassar, Manado dan Luwuk.

Yang dibutuhkan adalah regulasi yang ketat dari pemerintah lokal yang membagi secara proporsional investatasi dari pelaku industri Pariwisata. Regulasi tersebut akan memberi ruang kepada pemodal besar dan asing untuk membangun sarana seperti hotel bintang tiga dan pelaksanaan Pariwisata untuk kelas menengah ke atas. Adapun untuk pengusaha lokal, akan dilindungi oleh regulasi tersebut untuk senantiasa diberi ruang untuk mendirikan cottages sekelas melati dan menyelenggarakan aktivitas pariwisata untuk kelas menengah ke bawah.  Diversifikasi pasar juga akan membuka peluang untuk adanya home stay di rumah – rumah penduduk lokal yang tinggal di kepulauan Togean.

 

Pariwisata yang Berimbang

Gagasan diversifikasi aktivitas dan pasar pada akhirnya juga bermuara pada keseimbangan dalam pembangunan pariwisata. Keseimbangan itu berada pada aspek keadilan dalam memberi peluang kepada segala segmen investor dan masyarakat sebagai pelaku pariwisata. Mengeksploitasi potensi Togean secara berlebihan dan secepat mungkin dapat berdampak sosial ekonomi yang tidak kita sama harapkan. Pariwisata Togean dapat saja bukan lagi milik kita namun dikuasai oleh asing sementara masyarakat lokal bukan lagi sebagai pelaku dan akibatnya tidak siap dengan perubahan sosial akibat pariwisata.11001673_10206479271326802_3278554339599700855_n

Facebook Comments